Banda
Naira| Banda Education - Kampus Hatta-Sjahrir Banda Naira
terletak diantara sejumlah bangunan tua peninggalan kolonial Portugis, Spanyol,
Belanda dan Inggris. Diantaranya juga terdapat sejumlah rumah kediaman para
tokoh Proklamator yang "diasingkan" di Banda, seperti; Bung Hatta,
Sjahrir, Iwa Kusumasoemantri, dan Dr. Tjipto, yang masih berdiri kokoh hingga
saat ini. Belum lagi keasrian alam yang wangi oleh semerbak buah pala dan
cengkih. Belajar di kampus Banda, seakan
mengantarkan kita pada suasana masa lampau, eksotik, penuh petualangan…
Banda
Naira adalah gugusan pulau-pulau kecil yang terletak disebelah Tenggara
pulau
Ambon propinsi Maluku dan termasuk dalam wilayah kabupaten Maluku
Tengah. Setidaknya ada tiga daerah di Indonesia yang menggunakan nama
“Banda”, yaitu Banda
Aceh di ujung utara Sumatera, Banda Naira di Maluku Tengah dan Banda Eli
di
Maluku Tenggara.
Banda Naira
adalah kota tua penuh kenangan, yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah
dunia. Naira adalah ibu kota kecamatan Banda. Kota yang telah berumur ± lima
abad ini seakan menyimpan misteri suka sekaligus duka bagi semua penduduknya. Kekayaan
alamnya yang melimpah, khususnya pala dan cengkih, membuat Banda menjadi "magnit"
bagi perhatian bangsa Eropa berabad-abad yang lalu. Spanyol dan Portugis menjadi pelopor dalam menemukan
Banda. Diikuti Belanda dan Inggris yang saling berperang bertahun-tahun untuk menaklukkan
dan memperluas wilayah kekuasaannya. Bagi Belanda, Banda Naira tak ternilai
harganya. Inilah alasan mengapa Belanda menjadikan Banda sebagai pusat
pertahanan dan pemukiman Gubernur Jenderal VOC di masa itu. Betapa pentingnya
Banda saat itu, sehingga membuat Belanda bersedia menukar wilayah koloninya Neuw Amsterdam (kini Manhattan) kepada
Inggris. Dan sebagai gantinya, Belanda mengambil Pulau Run, sebuah pulau kecil koloni
Inggris, di gugusan terujung kepulauan Banda.
Namun, keunggulan
buah pala dan cengkih bukan sekedar “rahmat” bagi Banda, tapi sekaligus petaka
bagi penduduknya. Kehadiran bangsa-bangsa Eropa (Spanyol, Portugis, Inggris dan
Belanda) yang datang silih berganti sesungguhnya dengan satu tujuan; penaklukkan
dan pengeksploitasian. Dan puncak dari penaklukkan itu adalah sebuah tragedi yang
dilakukan oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal Belanda saat itu, yang mengeksekusi
paksa 44 tokoh Banda (Orang Kaya),
dan membantai puluhan ribu rakyatnya. Betapa bengisnya J.P. Coen saat itu,
sehingga membuat siapapun yang menyebut
nama Coen seakan berbau amis darah rakyat Banda.
Pembantaian itu tidak
pernah terlupakan dalam benak semua anak negeri Banda dari generasi ke generasi.
Dan untuk mengingat tragedi itu, telah dipugar sebuah sumur tua (parigi), tempat dimana terjadinya
persitiwa tersebut yang kemudian dikenal dengan monumen “Parigi Rantai”. Baik
parigi rantai maupun benteng-benteng pertahanan Belanda yang tersebar di hampir
seluruh kepulauan Banda serta rumah-rumah mewah peninggalan Belanda dan
Inggris, bukan saja menjadi objek wisata yang menarik, tapi juga menjadi simbol
penderitaan rakyat Banda selama ratusan tahun.
Banda Naira boleh jadi merupakan tempat
yang sangat memanjakan dahaga historis siapapun, khususnya mereka penikmat sejarah
masa lampau. Benteng Belgica misalnya, yang terletak di atas bukit di kota
Naira, tidak banyak yang mengira jika bangunan itu didirikan oleh Gubernur
Jenderal VOC pertama Piether Both
pada tahun 1611. Belum lagi benteng Nassau yang keindahannya bagaikan benteng kolonial
abad pertengahan, dengan sistem irigasi yang mengelilinginya, meskipun kini hanya
tinggal puing-puing.
Ada juga Istana Mini Naira yang menjadi
tempat tinggal Gubernur Jendral Belanda yang dibangun setahun lebih awal dari
Istana Negara di Jakarta, yaitu tahun 1796. Tokoh-tokoh nasional, seperti Bung
Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa
Kusumasumantri, Tjipto Mangunkusumo, dan sejumlah tokoh pergerakan lainnya juga pernah
singgah di Banda Naira saat diasingkan oleh Belanda dahulu. Sejumlah
peristiwa historis yang terhampar di kepulauan Banda Naira, membuat siapapun
yang datang di kepulauan ini bagaikan menemukan selembar “peta kuno” di Abad
Modern. Inilah alasan mengapa salah seorang sejarawan asing menyebut Banda sebagai
“een klein Europeesche Stad in Zuid-Oost
Azie” atau kumpulan kota-kota eropa di Asia Tenggara.
Tidak hanya
padat akan sejarah, Banda juga begitu kaya dengan budaya masyarakatnya. Sebagai
wilayah yang pernah menjadi tujuan utama bangsa-bangsa dunia, Banda juga menanggung
akibat menjadi wilayah “pertarungan” budaya-budaya luar, yang pada akhirnya
melahirkan populasi masyarakatnya yang sangat plural. Adat istiadat Banda memiliki
ciri tersendiri bila dibandingkan dengan etnik Maluku lainnya. Orang Banda
dewasa ini adalah keturunan campuran dari berbagai etnik yang pernah lama
bermukim di Banda Naira, seperti Portugis, Belanda, Inggris, Cina, Melayu, Arab
Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain sebagainya. Proses inilah yang menjadikan
etnik Banda Naira “unik” dengan penampilan-penampilan yang lebih enak dipandang.
Belum lagi perangai yang dimiliki penduduknya yang jauh lebih ramah, penuh persahabatan, dan
terbuka terhadap pengaruh luar, juga memiliki kepasrahan yang luar biasa. Wajar
jika Bung Hatta (Wakil Presiden Pertama RI) yang pernah bermukim selama lima
tahun di Banda Naira (1937-1942) pernah menyatakan Orang Banda bagaikan
miniaturnya bangsa Indonesia.
Keindahan taman
laut Banda juga menjadi keunggulan tersendiri. Panorma taman lautnya yang
memesona, memberikan ketenangan bagi siapa saja yang berkunjung ke sana.
Seorang pakar kelautan dan arkeologi bawah laut berkebangsaan Prancis Jacques
Causteau, mengatakan bahwa melihat Banda Naira seperti menemukan “Surga Baru”,
seakan berada di Surga Lapisan Ketujuh. Sejumlah biota laut langka dan karang
yang indah berwarna-warni tumbuh diatas hamparan permadani Taman Laut Banda
yang begitu indah.




