Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Ini adalah blog komunitas pendidikan di Banda Naira, bergabunglah bersama kami, untuk kemajuan bersama--bandaeducation--bandaeducation--bandaeducation--Thank's for visit our blog. This is the community blog for education in Banda Naira....come n enjoy with us...for our bright future...

Jumat, 27 April 2012

KAMPUS BANDA DI PELATARAN SEJARAH DUNIA


Banda Naira| Banda Education - Kampus Hatta-Sjahrir Banda Naira terletak diantara sejumlah bangunan tua peninggalan kolonial Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Diantaranya juga terdapat sejumlah rumah kediaman para tokoh Proklamator yang "diasingkan" di Banda, seperti; Bung Hatta, Sjahrir, Iwa Kusumasoemantri, dan Dr. Tjipto, yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Belum lagi keasrian alam yang wangi oleh semerbak buah pala dan cengkih. Belajar di kampus Banda, seakan mengantarkan kita pada suasana masa lampau, eksotik, penuh petualangan…
 
Banda Naira adalah gugusan pulau-pulau kecil yang terletak disebelah Tenggara pulau Ambon propinsi Maluku dan termasuk dalam wilayah kabupaten Maluku Tengah. Setidaknya ada tiga daerah di Indonesia yang menggunakan nama “Banda”, yaitu Banda Aceh di ujung utara Sumatera, Banda Naira di Maluku Tengah dan Banda Eli di Maluku Tenggara.
 
Banda Naira adalah kota tua penuh kenangan, yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah dunia. Naira adalah ibu kota kecamatan Banda. Kota yang telah berumur ± lima abad ini seakan menyimpan misteri suka sekaligus duka bagi semua penduduknya. Kekayaan alamnya yang melimpah, khususnya pala dan cengkih, membuat Banda menjadi "magnit" bagi perhatian bangsa Eropa berabad-abad yang lalu.  Spanyol dan Portugis menjadi pelopor dalam menemukan Banda. Diikuti Belanda dan Inggris yang saling berperang bertahun-tahun untuk menaklukkan dan memperluas wilayah kekuasaannya. Bagi Belanda, Banda Naira tak ternilai harganya. Inilah alasan mengapa Belanda menjadikan Banda sebagai pusat pertahanan dan pemukiman Gubernur Jenderal VOC di masa itu. Betapa pentingnya Banda saat itu, sehingga membuat Belanda bersedia menukar wilayah koloninya Neuw Amsterdam (kini Manhattan) kepada Inggris. Dan sebagai gantinya, Belanda mengambil Pulau Run, sebuah pulau kecil koloni Inggris, di gugusan terujung kepulauan Banda.

Namun, keunggulan buah pala dan cengkih bukan sekedar “rahmat” bagi Banda, tapi sekaligus petaka bagi penduduknya. Kehadiran bangsa-bangsa Eropa (Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda) yang datang silih berganti sesungguhnya dengan satu tujuan; penaklukkan dan pengeksploitasian. Dan puncak dari penaklukkan itu adalah sebuah tragedi yang dilakukan oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal Belanda saat itu, yang mengeksekusi paksa 44 tokoh Banda (Orang Kaya), dan membantai puluhan ribu rakyatnya. Betapa bengisnya J.P. Coen saat itu, sehingga membuat siapapun yang  menyebut nama Coen seakan berbau amis darah rakyat Banda.

Pembantaian itu tidak pernah terlupakan dalam benak semua anak negeri Banda dari generasi ke generasi. Dan untuk mengingat tragedi itu, telah dipugar sebuah sumur tua (parigi), tempat dimana terjadinya persitiwa tersebut yang kemudian dikenal dengan monumen “Parigi Rantai”. Baik parigi rantai maupun benteng-benteng pertahanan Belanda yang tersebar di hampir seluruh kepulauan Banda serta rumah-rumah mewah peninggalan Belanda dan Inggris, bukan saja menjadi objek wisata yang menarik, tapi juga menjadi simbol penderitaan rakyat Banda selama ratusan tahun.

Banda Naira boleh jadi merupakan tempat yang sangat memanjakan dahaga historis siapapun, khususnya mereka penikmat sejarah masa lampau. Benteng Belgica misalnya, yang terletak di atas bukit di kota Naira, tidak banyak yang mengira jika bangunan itu didirikan oleh Gubernur Jenderal VOC pertama Piether Both pada tahun 1611. Belum lagi benteng Nassau yang keindahannya bagaikan benteng kolonial abad pertengahan, dengan sistem irigasi yang mengelilinginya, meskipun kini hanya tinggal puing-puing.

Ada juga Istana Mini Naira yang menjadi tempat tinggal Gubernur Jendral Belanda yang dibangun setahun lebih awal dari Istana Negara di Jakarta, yaitu tahun 1796. Tokoh-tokoh nasional, seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, Tjipto Mangunkusumo, dan sejumlah tokoh pergerakan lainnya juga pernah singgah di Banda Naira saat diasingkan oleh Belanda dahulu. Sejumlah peristiwa historis yang terhampar di kepulauan Banda Naira, membuat siapapun yang datang di kepulauan ini bagaikan menemukan selembar “peta kuno” di Abad Modern. Inilah alasan mengapa salah seorang sejarawan asing menyebut Banda sebagai “een klein Europeesche Stad in Zuid-Oost Azie” atau kumpulan kota-kota eropa di Asia Tenggara.

Tidak hanya padat akan sejarah, Banda juga begitu kaya dengan budaya masyarakatnya. Sebagai wilayah yang pernah menjadi tujuan utama bangsa-bangsa dunia, Banda juga menanggung akibat menjadi wilayah “pertarungan” budaya-budaya luar, yang pada akhirnya melahirkan populasi masyarakatnya yang sangat plural. Adat istiadat Banda memiliki ciri tersendiri bila dibandingkan dengan etnik Maluku lainnya. Orang Banda dewasa ini adalah keturunan campuran dari berbagai etnik yang pernah lama bermukim di Banda Naira, seperti Portugis, Belanda, Inggris, Cina, Melayu, Arab Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain sebagainya. Proses inilah yang menjadikan etnik Banda Naira “unik” dengan penampilan-penampilan yang lebih enak dipandang. Belum lagi perangai yang dimiliki penduduknya yang  jauh lebih ramah, penuh persahabatan, dan terbuka terhadap pengaruh luar, juga memiliki kepasrahan yang luar biasa. Wajar jika Bung Hatta (Wakil Presiden Pertama RI) yang pernah bermukim selama lima tahun di Banda Naira (1937-1942) pernah menyatakan Orang Banda bagaikan miniaturnya bangsa Indonesia.

Keindahan taman laut Banda juga menjadi keunggulan tersendiri. Panorma taman lautnya yang memesona, memberikan ketenangan bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Seorang pakar kelautan dan arkeologi bawah laut berkebangsaan Prancis Jacques Causteau, mengatakan bahwa melihat Banda Naira seperti menemukan “Surga Baru”, seakan berada di Surga Lapisan Ketujuh. Sejumlah biota laut langka dan karang yang indah berwarna-warni tumbuh diatas hamparan permadani Taman Laut Banda yang begitu indah.


Belajar di kampus Hatta-Sjahrir tentu akan sangat mengasyikkan bagi para mahasiswa, selain suasana yang alami ditumbuhi pepohonan tua, keindahan pantai yang memesona, dan wangi semerbak bunga pala dan cengkeh yang eksotik, tumbuh subur di seluruh penjuru kepulauan ini, seakan mengantarkan kita pada suasana masa lampau, penuh petualangan. (BE)